Mengenal Penyakit TBC, Penyakit Berbahaya Yang Mengancam Nyawa

Tuberculosis, atau dikenal dengan sebutan TBC, adalah penyakit menular yang menyerang paru-paru (dalam beberapa kasus juga dapat menyerang organ tubuh lain). Penyakit ini menyerang ketika bakteri TBC menyebar melalui droplet (percikan air atau lendir penderita TBC saat batuk, berbicara, atau bersin). Penyakit TBC merupakan penyakit yang fatal. Namun, dalam banyak kasus, penyakit ini dapat dicegah dan diobati. TBC bukanlah sebuah penyakit yang baru. Di masa lalu, TBC merupakan  penyebab kematian terbanyak di seluruh dunia. Dengan peningkatan kondisi hidup dan perkembangan antibiotik, kasus kematian akibat TBC menurun drastic di negara-negara maju. Akan tetapi, pada tahun 1980, angka kematian kembali meningkat. Bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) saat itu menyebutnya sebagai sebuah epidemik. Mereka melaporkan bahwa penyakit TBC merupakan salah satu dari 10 penyebab kematian terbanyak di seluruh dunia.

WHO juga memperkirakan pada tahun 2018 ada sekitar 10 juta orang di dunia yang memiliki penyakit TBC. Bahkan, 1.5 juta di antaranya meninggal dunia karena penyakit ini, dengan 251ribu orang dari angka tersebut juga menderita penyakit HIV. Mayoritas orang-orang yang terjangkit penyakit TBC berada di negara-negara Asia. Namun, TBC masih tetap menjadi kekhawatiran sendiri di negara-negara maju lain, termasuk di Amerika Serikat. Di tahun yang sama, dokter melaporkan ada sekitar lebih dari 9ribu kasus penyakit TBC di Amerika Serikat, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC). Saat ini, resistensi antibiotik menyebabkan kekhawatiran baru di antara para pakar TBC. Beberapa jenis dari penyakit ini tidak memberikan respon terhadap pilihan-pilihan perawatan penyakit TBC yang paling efektif sekalipun. Oleh sebab tersebut, TBC menjadi penyakit yang sulit di atasi.

Infeksi dan penyakit TBC

Seseorang dapat terjangkit penyakit TBC setelah ia menghirup bakteri Mycobacterium tuberculosis atau M. tuberculosis. Saat TBC menyerang paru-paru, penyakit ini menjadi penyakit yang sangat menular. Namun, seseorang baru akan sakit setelah ia melakukan kontak langsung dengan seseorang yang memiliki penyakit TBC jenis ini.

  • Infeksi TBC (TBC laten)

Seseorang dapat memiliki bakteri TBC di dalam tubuh mereka namun tidak menunjukkan gejala atau tanda-tanda penyakit apapun. Pada banyak orang, sistem kekebalan tubuh yang kuat dapat menahan bakteri sehingga bakteri tidak akan berkembang biak dan menyebabkan penyakit. Dalam kasus ini, seseorang dapat memiliki infeksi TBC namun tidak memiliki penyakit yang aktif.

Para dokter menyebut kondisi ini sebagai TBC laten. Seseorang mungkin tidak akan pernah menunjukkan tanda-tanda atau gejala dan tidak sadar mereka memiliki infeksi ini. Tidak ada pula risiko untuk menularkan infeksi laten ke orang lain. Namun, tentunya, seseorang dengan infeksi TBC laten masih tetap membutuhkan perawatan. CDC sendiri memperkirakan di Amerika Serikat terdapat lebih dari 13 juta orang yang memiliki TBC laten.

  • Penyakit TBC (TBC aktif)

Tubuh mungkin tidak dapat menampung bakteri TBC, khususnya saat sistem kekebalan tubuh seseorang lemah atau sedang dalam perawatan obat-obatan tertentu. Saat hal ini terjadi, bakteri akan berkembang biak dan menyebabkan gejala-gejala yang mengakibatkan TBC aktif. Mereka yang memiliki TBC aktif dapat menularkan penyakit ini.

Tanpa intervensi medis, penyakit TBC akan menjadi aktif pada 5 hingga 10 persen dari orang-orang yang memiliki infeksi. Selain sistem kekebalan tubuh yang lemah dan pengaruh obat-obat, risiko penyakit TBC lebih tinggi menyerang orang tua dan anak-anak, mereka yang menggunakan obat-obatan terlarang, dan mereka yang tidak mendapatkan perawatan TBC yang baik di sebelumnya.

Read More

Penyebab Gusi Bengkak

Gusi Anda merupakan bagian yang penting dalam kesehatan mulut keseluruhan. Gusi terbuat dari jaringan yang padat berwarna merah muda yang menyelimuti tulang rahang. Jaringan tersebut tebal dan penuh dengan pembuluh darah. Apabila gusi bengkak, gusi dapat menonjol keluar. Gusi bengkak biasanya terjadi di daerah di mana gusi bersentuhan dengan gigi. Gusi dapat bengkak dan membesar sehingga dapat menutupi gigi. Gusi yang bengkak memiliki warna merah, alih-alih warna merah muda normal. Gusi bengkak biasanya akan menimbulkan rasa sakit, perih, dan sangat sensitif. Terkadang, gusi akan lebih mudah untuk berdarah ketika Anda menggosok gigi atau melakukan flossing pada gigi.

Gingivitis penyebab gusi bengkak

Radang gusi atau gingivitis merupakan penyebab utama gusi bengkak yang sering dijumpai. Penyakit gusi ini dapat menyebabkan gusi menjadi iritasi dan bengkak. Banyak orang tidak menyadari mereka memiliki gingivitis karena gejala yang ditimbulkan penyakit ini cukup ringan. Namun, apabila dibiarkan saja dan tidak diobati, gingivitis dapat berubah menjadi kondisi serius yang disebut dengan periodontitis dan menyebabkan seseorang untuk kehilangan gigi.

Gingivitis biasanya terjadi akibat kebersihan mulut yang buruk, sehingga plak dapat terus menumpuk di garis gusi dan gigi. Plak adalah lapisan yang terdiri dari bakteri dan sisa-sisa makanan yang semakin menumpuk secara terus menerus. Apabila plak tidak dibersihkan selama beberapa hari, plak dapat berubah menjadi karang gigi. Karang gigi adalah plak yang mengeras. Biasanya, menyikat gigi dan melakukan flossing tidak akan cukup untuk menghilangkan karang gigi. Anda membutuhkan bantuan dokter gigi profesional untuk membersihkannya. Apabila dibiarkan, karang gigi dapat menyebabkan gingivitis.

Kehamilan dan gusi bengkak

Gusi bengkak juga dapat terjadi saat seseorang hamil. Jumlah hormon yang meningkat yang diproduksi oleh tubuh selama masa kehamilan dapat meningkatkan aliran darah di gusi. Peningkatan aliran darah tersebut dapat menyebabkan gusi untuk mudah iritasi, yang akhirnya dapat menyebabkan pembengkakan. Perubahan hormon tersebut juga dapat menyebabkan menurunannya kemampuan tubuh dalam melawan bakteri yang biasanya menyebabkan infeksi pada gusi. Hal ini dapat meningkatkan risiko Anda untuk menderita gusi bengkak.

Malnutrisi dan infeksi

Kekurangan vitamin tertentu, khususnya vitamin B dan C, dan menyebabkan gusi bengkak. Vitamin C memiliki peran yang penting dalam menjaga dan memperbaiki gigi dan gusi. Apabila kadar vitamin C Anda terlalu rendah, Anda dapat mengidap scurvy. Scurvy dapat menyebabkan anemia dan penyakit gusi. Di negara-negara berkembang, malnutrisi sudah jarang terjadi. Pun apabila terjadi, biasanya hal tersebut menimpa orang yang sudah tua.

Selain malnutrisi, infeksi yang disebabkan oleh jamur dan virus juga berpotensi dalam menyebabkan gusi bengkak. Apabila Anda mengidap penyakit herpes, hal tersebut dapat menyebabkan kondisi yang dikenal dengans sebutan acute herpetic gingivostomatitis, yang kemudian dapat menyebabkan gusi bengkak. Sariawan, yang mana merupakan hasil dari jamur di mulut yang tumbuh dengan berlebih, juga dapat menyebabkan gusi bengkak. Kerusakan gigi yang tidak dirawat dapat menyebabkan abses gigi, yang mana merupakan salah satu bentuk gusi bengkak.

Ada beberapa tindakan pencegahan yang bisa Anda lakukan untuk mencegah gusi bengkak, seperti menjaga kebersihan dan kesahatan mulut serta mengonsumsi makanan-makanan yang sehat. Sikat gigi dengan teratur dan lakukan flossing setidaknya sekali setiap harinya. Kunjungi dokter gigi setidaknya 6 bulan sekali untuk pembersihan secara menyeluruh. Apabila Anda memiliki mulut yang kering, kondisi ini dapat meningkatkan risiko terbentuknya plak dan karang gigi. Bicarakan dengan dokter untuk mendapatkan perawatan khusus.

Read More

Mengenal Amputasi, Tindakan Medis yang Terkenal Menakutkan

Bagi banyak orang, amputasi memang kata yang terdengar menakutkan. Meskipun, sebenarnya amputasi yang dilakukan sesuai dengan indikasi medis, justru baik bagi kesehatan bahkan dapat menyelamatkan nyawa.

Tindakan amputasi adalah prosedur pembedahan untuk membuang seluruh atau beberapa bagian tubuh, seperti lengan, kaki, jari tangan, atau jari kaki. Tindakan ini dapat dikatakan sebagai pilihan terakhir, tidak akan dilakukan kecuali pasien benar-benar membutuhkannya.

Mengapa amputasi dilakukan?

Seperti semua prosedur medis lain, amputasi juga dilakukan berdasarkan indikasi medis tertentu. Dokter mungkin akan menyarankan tindakan amputasi ketika tidak ada suplai darah pada anggota tubuh tersebut, atau jaringan tubuh rusak permanen.

Artinya, gangguan suplai darah yang menimbulkan kematian jaringan atau gangren, seperti yang kerap terjadi pada penyakit diabetes atau penyakit arteri perifer, dapat menjadi penyebab diperlukannya tindakan amputasi. Begitu juga dengan cedera parah, baik akibat kecelakaan lalu lintas atau luka bakar, adanya infeksi yang tidak dapat diatas dengan obat-obatan, kanker yang sudah merusak tulang atau otot pada anggota gerak tubuh, dan lain sebagainya, merupakan beberapa indikasi medis yang membuat dokter menyarankan tindakan amputasi.

Masalah-masalah di atas dapat mengganggu fungsi dan bentuk organ, sirkulasi darah, serta susunan otot, saraf, dan tulang. Oleh karena itu, bila anggota gerak tersebut sudah tidak dapat diselamatkan, perlu dilakukan amputasi.

Persiapan sebelum prosedur amputasi dilaksanakan

Prosedur amputasi dapat terencana atau sebagai prosedur gawat darurat. Baik bersifat terencana maupun gawat darurat, keduanya tetap membutuhkan persiapan. Dokter bedah yang merawat Anda akan melakukan evaluasi dan berdiskusi, sebelum tindakan amputasi dilakukan.

Selain pemeriksaan fisik, kondisi psikologis pasien juga akan dievaluasi. Hal tersebut ditujukan untuk menilai kesiapan pasien dalam menjalani tindakan amputasi. Sebab perlu diakui, kehilangan anggota tubuh bukanlah hal yang mudah untuk diterima.

Dokter bedah juga akan mengevaluasi anggota tubuh yang sehat, karena nantinya anggota tubuh tersebut akan bekerja lebih keras setelah bagian lain diamputasi. Kadang, untuk menyiapkan kondisi pasien pasca menjalani amputasi, dokter juga menjadwalkan sesi fisioterapi dan rehabilitasi medik.

Gambaran prosedur amputasi

Saat akan menjalani prosedur amputasi, biasanya pasien akan diberi obat bius atau anestesi. Jenis anestesi yang digunakan dapat berupa anestesi umum di mana pasien menjadi tidak sadarkan diri atau anestesi epidural yang tidak mengganggu kesadaran pasien, namun bagian tubuh bawahnya tidak merasakan apa pun dalam jangka waktu tertentu.

Prinsip dasar tindakan amputasi, dokter akan mengambil seluruh jaringan yang rusak dan mempertahankan sebanyak mungkin jaringan yang masih bisa diselamatkan atau masih sehat. Untuk mengetahui bagian mana yang bisa dipertahankan, hal pertama yang dilakukan dokter adalah memeriksa denyut nadi di sekitar bagian tubuh yang akan diamputasi.

Kemudian, dokter juga akan membandingkan suhu bagian tubuh yang akan diamputasi dengan bagian tubuh yang dianggap sehat. Tes sensitivitas sentuhan serta kemungkinan muncul kemerahan juga dilakukan sebelum prosedur amputasi.

Bila batas bagian tubuh yang akan diamputasi sudah diketahui, dokter akan mengambil bagian jaringan dan tulang yang rusak tersebut. Tulang yang dipertahankan akan dibuat lebih tumpul dan halus agar tidak melukai jaringan sekitarnya. Dokter juga akan membentuk otot-otot di daerah yang diamputasi serta menjahit kulit untuk menutupnya.

Nantinya, bagian tersebut dapat ditutup dengan prostesis atau alat buatan pengganti bagian tubuh yang diamputasi. Hal ini sifatnya pilihan. Kadang ada pasien yang memilih tidak menutup bagian tubuh yang diamputasi tersebut.

Dapat dipastikan tindakan amputasi jelas akan mengubah cara hidup Anda. Setiap orang yang menjalani amputasi perlu beradaptasi kembali, baik di lingkungan rumah maupun pekerjaan. Oleh sebab itu, dukungan dari orang terdekat sangat dibutuhkan untuk melewati masa-masa ini.

Read More

Kondisi Kesehatan Jika Tak Mampu Mencapai Angka pH Normal Urine

bagaimana seharusnya ph normal urine yang menjadi indikasi kondisi kesehatan manusia?

Urine adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal untuk kemudian dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi atau berkemih. Ekskresi urine diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh. Salah satu hal yang penting di dalam urine adalah kadar pH, karena ia memiliki banyak peran sehingga kita harus terus menjaga nilai pH normal urine.

Urine terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea), garam terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk urine berasal dari darah atau cairan interstisial. Komposisi urine berubah sepanjang proses reabsorpsi ketika molekul yang penting bagi tubuh, misal glukosa, diserap kembali ke dalam tubuh melalui molekul pembawa.

Adapun ph urine menunjukkan tingkat asam dan basa urine. Dengan mengetahui ph urine, kita bisa mendeteksi kondisi kesehatan. Pasalnya, pH urine bisa menunjukkan kondisi kesehatan tertentu atau gejala penyakit yang mungkin ada di dalam tubuh kita. Salah satu contohnya adalah kadar pH urine yang terlalu asam atau terlalu basa, juga akan memengaruhi tingkat risiko Anda terkena batu ginjal.

Nilai pH normal urine berkisar antara 4,5- 8,0. Namun, nilai rata-ratanya adalah 6,0 dan nilai pH urine yang netral adalah 7,0. Urine yang memiliki pH di bawah 5,0 adalah asam, sedangkan pH di atas 8,0 adalah basa.

Meski begitu, tiap laboratorium bisa saja memiliki nilai normal tersendiri. Namun, hal itu tidak akan berbeda jauh dari rentang yang telah disebutkan di atas.

Jika dari hasil pemeriksaan, nilai pH urine di bawah normal, artinya sifat urine yakni asam. Nah, kondisi tersebut bisa menunjukkan beberapa gejala kesehatan seperti di bawah ini:

  • Asidosis

Asidosis adalah kondisi yang terjadi ketika kadar asam di dalam tubuh sangat tinggi. Kondisi ini ditandai dengan beberapa gejala, misalnya napas pendek, linglung, atau sakit kepala.

Nilai pH normal urine adalah di rentang 4,5- 8,0. Asidosis terjadi saat pH urine kurang dari 5,00 (asam).  

Asidosis terjadi saat keseimbangan asam-basa di dalam tubuh terganggu, sehingga kadar asam menjadi sangat tinggi. Ada 3 mekanisme yang menyebabkan munculnya asidosis, yaitu produksi asam yang berlebihan, pengeluaran asam yang terganggu, dan proses keseimbangan asam-basa di dalam tubuh yang tidak normal. Hal-hal ini akan menyebabkan terjadinya penumpukan asam di dalam tubuh.

Ketiga mekanisme penyebab asidosis di atas disebabkan oleh dua faktor, yakni gangguan metabolisme asam di tubuh (asidosis metabolik) atau gangguan pada proses pertukaran oksigen dan karbon dioksida (asidosis respiratorik).

Sementara itu, dalam konteks ini, asidosis terjadi lantaran penyebab pertama atau asidosis metabolik.

Kondisi ini terjadi ketika produksi asam di tubuh terlalu berlebihan atau saat ginjal tidak mampu mengeluarkan asam dari dalam tubuh.

  • Dehidrasi

Dehidrasi adalah kondisi ketika tubuh kehilangan lebih banyak cairan daripada yang didapatkan, sehingga keseimbangan zat gula dan garam menjadi terganggu, akibatnya tubuh tidak dapat berfungsi secara normal.

Dehidrasi terkadang dianggap sebagai permasalahan kondisi tubuh yang tidak perlu ditangani secara serius, dan kebanyakan anak-anak dan remaja menganggapnya sebagai haus biasa. Namun, jika gejala awal dehidrasi tidak ditangani dengan baik, dapat mengganggu fungsi tubuh. Saat dehidrasi telah sampai di titik yang ekstrem, maka bisa menyebabkan kejang, kerusakan otak, dan bahkan kematian.

  • Diabetes Ketoasidosis

Merupakan suatu komplikasi diabetes yang serius akibat adanya keton dalam tingkat tinggi dalam tubuh. Ketoasidosis diabetik terjadi ketika sel-sel dalam tubuh tidak menerima gula (glukosa) yang dibutuhkan untuk menghasilkan energi. Sehingga ada banyak glukosa dalam aliran darah, tetapi tidak cukup insulin untuk membantu mengangkut glukosa dari darah menuju ke dalam sel. 

Akibatnya sel kekurangan glukosa sebagai sumber energi dan beralih menggunakan lemak. Penguraian lemak sebagai sumber energi ini menghasilkan keton (sejenis asam), dengan jumlah yang cukup banyak dan berbahaya bagi tubuh.

  • Diare

Diare adalah penyakit yang membuat penderitanya menjadi sering buang air besar, dengan kondisi tinja yang encer. Pada umumnya, diare terjadi akibat makanan dan minuman yang terpapar virus, bakteri, atau parasit.

Biasanya diare hanya berlangsung beberapa hari (akut), namun pada sebagian kasus dapat memanjang hingga berminggu-minggu (kronis). Pada umumnya, diare tidak berbahaya jika tidak terjadi dehidrasi. Namun, jika disertai dehidrasi, penyakit ini bisa menjadi fatal, dan penderitanya perlu segera mendapat pertolongan medis.

Berdasarkan beberapa kondisi kesehatan di atas, penting kiranya untuk selalu menjaga nilai pH normal urine. Caranya cukup mudah, sebab salah satu faktor yang paling memengaruhi pH urine adalah pola makan. Sehingga, sebelum menilai hasil laboratorium dari pemeriksaan urine tersebut, dokter akan menanyakan tentang pola makan Anda sehari-hari.

Read More

Berbagai Penyebab Buta Warna

Warna memerankan peran penting bagi keseharian kita. Baik saat menonton pertandingan olahraga, memilih buah yang matang, dan membantu anak membuat proyek seni, kemampuan membedakan warna dibutuhkan agar aktivitas-aktivitas tersebut dapat dilakukan dengan optimal. Namun hidup tidak sebewarna itu bagi sebagian orang. Ada sekitar 8% pria dan 0.5% wanita di dunia ini yang menderita buta warna. Kebutaan warna, atau defisiensi warna, disebabkan karena mutase genetik atau kerusakan pada sel-sel yang ada di bagian belakang mata. Sel-sel tersebut bertanggung jawab terhadap penglihatan warna kita.

Tidak ada dua orang yang bisa melihat warna dengan cara yang sama. Hal ini disebabkan karena penglihatan warna merupakan permainan yang kompleks antara fotorespetor, saraf optik, dan otak. Kebanyakan orang yang menderita buta warna tidak dapat melihat satu dari tiga warna yang mata manusia bisa bedakan, yaitu warna biru, hijau, dan merah. 

Penyebab buta warna

Mata mengandung sel-sel saraf yang disebut sel kerucut yang dapat membuat retina, lapisan jaringan yang berada di belakang mata, untuk bisa melihat warna. Tiga jenis sel kerucut berbeda menyerap berbagai macam panjang gelombang cahaya, dan masing-masing bereaksi terhadap hijau, merah, dan biru. Sel kerucut tersebut kemudian akan mengirimkan informasi kepada otak untuk membedakan warna. Apabila satu atau lebih sel kerucut dalam retina ini rusak atau tidak ada, Anda akan kesulitan dalam melihat warna dengan baik. Penyebab buta warna yang lain seperti:

  • Keturunan

Mayoritas defisiensi penglihatan warna disebabkan karena faktor keturunan. Biasanya hal ini diwariskan dari ibu ke anak. Buta warna turunan tidak menyebabkan kebutaan atau gangguan kehilangan penglihatan lain.

  • Penyakit

Anda juga bisa menderita buta warna karena penyakit atau cedera pada retina. Pada glaukoma, tekanan internal pada mata, atau tekanan intraocular terlalu tinggi. Tekanan tersebut kemudian merusak saraf optik, yang bertugas membawa sinyal dari mata ke otak sehingga Anda dapat melihat. Sebagai hasilnya, kemampuan membedakan warna menjadi hilang.

Menurut jurnal Oftalmologi Investigatif dan Ilmu Visual, ketidakmampuan seseorang dengan glaukoma untuk membedakan biru dan kuning telah diketahui sejak akhir abad ke 19. Degenerasi makula dan retinopati diabetik dapat menyebabkan kerusakan pada retina, tempat di mana sel kerucut berada. Hal ini dapat menyebabkan buta warna. Dan bahkan dalam beberapa kasus, dapat menyebabkan kebutaan. Apabila Anda menderita katarak, lensa mata akan perlahan berubah dari transparan menjadi buram. Penglihatan warna Anda juga dapat menjadi berkurang sebagai hasilnya. Penyakit lain yang dapat memberikan dampak pada penglihatan seperti diabetes, penyakit Parkinson, penyakit Alzheimer, dan multiple sclerosis.

  • Pengobatan

Beberapa pengobatan tertentu dan menyebabkan perubahan pada penglihatan warna, contohnya obat-obatan antipsikotik chlorpromazine dan thioridazine. Antibiotik ethambutol, yang digunakan untuk merawat tuberculosis, juga dapat mengakibatkan masalah saraf optik dan mempersulit melihat beberapa warna tertentu.

  • Faktor lain

Faktor lain penyebab buta warna seperti bertambahnya usia. Hilangnya penglihatan dan defisiensi warna dapat terjadi saat seseorang bertambah tua. Selain itu, zat kimia beracun seperti styrene (yang ada pada plastik) juga dihubungkan dengan kehilangan kemampuan melihat warna.

Apabila buta warna disebabkan karena cedera atau penyakit, mengobati penyebabnya dapat meningkatkan deteksi warna. Namun, tidak ada obat untuk buta warna yang diwariskan. Buta warna turunan merupakan tantangan seumur hidup. Buta warna dapat membatasi seseorang dalam mendapatkan pekerjaan. Namun, banyak orang menemukan cara beradaptasi dengan kondisi yang mereka miliki.

Read More
kesalahan orang sakit

Waspada! Ini Dia 8 Kesalahan Umum yang Sering Dilakukan Orang saat Sakit

Saat sakit, Anda tentu ingin segera sembuh dan membaik sesegera mungkin. Tetapi beberapa kebiasaan ini ternyata bisa membuat gejala yang Anda alami menjadi lebih buruk. Untuk itu, hindari kesalahan umum saat mengobati batuk, pilek, dan flu berikut ini agar Anda tetap melakukan perawatan yang tepat.

1. Memaksakan Tubuh Untuk Beraktivitas

Sebagian orang menganggap remeh pilek, batuk, dan flu yang menyerang dan memilih untuk tetap beraktivitas sambil meminum obat. Padahal, obat tidak akan menyembuhkan penyakit melainkan hanya menurunkan gejala. Untuk dapat pulih 100% tubuh Anda membutuhkan energi agar melawan virus. Itulah sebabnya istirahat merupakan prioritas yang harus Anda utamakan.


2. Menganggap Remeh Gejala Flu

Flu memang penyakit biasa yang dapat sembuh dengan sendirinya jika Anda beristirahat dengan baik. Namun, pahami beberapa gejala serius pada flu yang Anda alami, seperti demam tinggi, nyeri pada tubuh, serta kelelahan. Jika hal tersebut terjadi, segera kunjungi dokter untuk mendaoatkan obat antiviral seperti oseltamivir (Tamiflu) atau zanamivir (Relenza). Jika Anda meminumnya dalam 48 jam pertama sakit, Anda akan mendapatkan gejala yang semakin meringan.

3. Kekurangan Waktu Tidur

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, istirahat merupakan kunci untuk mendapatkan tubuh yang kuat agar mampu melawan virus. Jika Anda kekurangan tidur, bisa dipastikan sistem kekebalan Anda semakin melemah, sehingga akan mempersulit Anda untuk melawan infeksi itu. Sebuah penelitian menemukan bahwa orang yang tidurnya kurang dari 6 jam dalam semalam berisiko tinggi untuk sakit dibandingkan dengan mereka yang tidur paling sedikit 7 jam. Jadi, sempatkan waktu untuk tidur siang dan pastikan untuk mempercepat waktu tidur malam Anda. Apabila hidung tersumbat dan batuk membuat Anda kesulitan tidur, hangatkan tenggorokan dengan madu hangat dan gunakan humidifier untuk membantu Anda bernapas lebih mudah.

4. Meminta Resep Antibiotik pada Dokter

Sebagian orang terlalu sering bertindak sembarangan saat menghadapi flu, pilek, dan batuk, Tidak jarang pula mereka meminta resep antibiotik untuk meredakan gejala sakit yang sebenarnya tidak disebabkan oleh bakteri. Hal ini tentu akan percuma karena antibiotik tidak akan membuat Anda merasa lebih baik. Antibiotik hanya membunuh bakteri, sementara pilek dan flu disebabkan oleh virus. Bahkan, bukan hanya tidak membantu pengobatan, pemberian antibiotik juga dapat meningkatkan risiko efek samping, seperti diare dan reaksi alergi. Bahkan, hal ini juga berkontribusi terhadap masalah kesehatan global yang sangat besar, yaitu resistensi antibiotik.

5. Tidak Menambah Asupan Air

Ketika tenggorokan sakit, tidak mudah memang untuk menelan cairan. Tetapi ketika Anda tetap membiarkan hal tersebut, kondisi tubuh Anda akan semakin parah. Pastikan untuk memperbanyak asupan air karena dengan itu Anda bisa mengencerkan lendir dan memecah sumbatan dalam hidung. Minum air putih yang banyak juga dapat meredakan sakit kepala. Selain itu, untuk perawatan ekstra, Anda dapat memilih minuman hangat seperti teh herbal atau sup ayam hangat. Penelitian menunjukkan bahwa asupan hangat itu dapat membantu meringankan gejala flu seperti lemas dan sakit tenggorokan.

6. Melewatkan Makan

Sakit memang kerap menurunkan selera dan nafsu makan. Namun, memberikan asupan energi dan nutrisi untuk tubuh merupakan hal penting agar dapat memperoleh tubuh yang kuat dan berenergi. Asupan kalori dan nutrisi akan memicu kerja dari sel-sel kekebalan untuk mengatasi virus flu. Dengan begitu, Anda dapat menjadi lebih cepat pulih. Cobalah untuk makan semangkuk sup ayam. Penelitian menunjukkan bahwa makanan klasik ini memang dapat meringankan beberapa gejala tersebut.

7. Tetap Merokok Saat Sakit

Merokok memang berbahaya bagi kesehatan. Selain merusak paru-paru, merokok juga dapat menyebabkan iritasi pada tenggorokan Anda. Tidak heran jika merokok dapat membuat gejala flu Anda menjadi lebih buruk. Jadi, hentikan rokok dan jauhi asap rokok orang lain agar dapat memperlancar pernapasan Anda.

8. Stres dan Banyak Pikiran

Hormon yang dihasilkan tubuh saat Anda stres akan memberikan dampak kurang baik pada sistem kekebalan. Ini juga yang menyebabkan terjadinya peningkatan peradangan yang dapat membuat hidung tersumbat Anda menjadi lebih buruk. Berusahalah untuk fokus pada relaksasi dan pemulihan. Dengan begitu Anda akan segera kembali pulih dan sehat.

Read More
gejala sakit tenggorokan

Gejala Sakit Tenggorokan dan Berbagai Cara Mengobatinya

Tenggorokan merupakan bagian tubuh yang cukup sensitif. Tidak mengherankan jika banyak orang mengalami sakit tenggorokan akibat terlalu banyak makan pedas atau minum air dingin. Kenali gejala sakit tenggorokan dan cara pengobatan berikut untuk mencegah kondisi yang lebih parah.

Gejala Sakit Tenggorokan

Gejala sakit tenggorokan bisa dilihat dan atau dirasakan berbeda-beda oleh setiap orang. Beberapa di antaranya adalah

1.    Rasa Kasar Di Belakang Tenggorokan.

Jika Anda merasakan rasa kasar di belakang tenggorokan, bisa jadi diakibatkan oleh udara musim dingin dan alergi. Namun, hal itu juga bisa menjadi tanda adanya bakteri, seperti radang atau infeksi virus. Untuk mengetahuinya Anda bisa memeriksanya ke dokter atau melakukannya sendiri di rumah.

Caranya ambil senter, lihat cermin dan katakan “Ahhh”. Anda bisa melihat titik-titik putih dan bercak di bagian belakang tenggorokan, atau warna merah dan bengkak pada kedua sisi tenggorokan. Itu bisa menjadi tanda infeksi bakteri seperti radang tenggorokan, sariawan, atau infeksi virus seperti herpes oral atau mononucleosis.

2.    Badan Terasa Dingin

Gejala lain sakit tenggorokan yaitu gejala dingin disertai batuk dan hidung berlendir. Bila itu yang Anda rasakan, mungkin saja Anda hanya terkena flu.

3.    Demam

Flu biasanya memang menyebabkan demam ringan. Namun, jika Anda memiliki sakit tenggorokan dan demam di atas 40 derajat celcius, bisa jadi Anda terkena infeksi tenggorokan. Akan tetapi, Anda tetap harus memperhatikan gejala lain dan segera pergi ke dokter.

4.    Kelenjar Getah Bening Membengkak

Ketika kelenjar getah bening menghancurkan kuman, kelenjar tersebut otomatis akan membengkak karena mulai melawan infeksi. Biasanya Anda akan merasa sakit di bawah rahang atau di kedua sisi leher.

5.    Rasa Sakit yang Parah

Infeksi bakteri, seperti radang tenggorokan, cenderung menyebabkan rasa sakit lebih parah yang tidak lekas membaik. Radang tenggorokan akan menyulitkan Anda untuk menelan. Dan terkadang dapat menyebabkan mual, kehilangan nafsu makan, sakit kepala dan sakit perut.

6.    Ruam

Gejala lain dari sakit tenggorokan yaitu adanya ruam di bagian leher dan terkadang menyebar ke seluruh bagian tubuh. Apabila hal ini terjadi, bisa jadi salah satu tanda infeksi bakteri streptococcus. Selain itu, ruam juga bisa menjadi salah satu tanda radang tenggorokan, demam berdarah, bakteremia (bakteri dalam darah) dan sindrom syok toksik.

7.    Infeksi Bakteri

Umumnya, sakit tenggorokan biasa dengan infeksi bakteri memiliki gejala yang berbeda. Sebagian besar sakit tenggorokan disebabkan oleh virus, seperti virus dingin.

Cara Mengobati Sakit tenggorokan

1.    Minum Antibiotik

Apabila Anda sakit tenggorokan akibat pilek, minum antibiotik tidak akan membantu sama sekali. Jadi sebaiknya sebelum minum antibiotik, konsultasikan terlebih dahulu untuk dokter agar mendapat penanganan lebih baik lagi.

2.    Rapid Strep Test

Ketahui terlebih dahulu apakah sakit tenggorokan yang Anda rasakan itu akibat flu atau infeksi tenggorokan. Anda bisa menggunakan tes strep yang hasilnya bisa didapatkan dalam 5 hingga 10 menit.

3.    Antibiotik untuk Strep

Apabila hasil tes strep positif, dokter akan memberikan Anda obat antibiotik. Obat tersebut akan membuat Anda lebih baik satu sampai dua hari, tetapi jangan berhenti untuk meminum obatnya meski Anda sudah merasa lebih baik. Karena jika Anda menghentikannya sebelum sembuh benar, bakteri akan semakin kuat dan mungkin akan lebih sulit untuk diobati.

Referensi:

https://www.webmd.com/cold-and-flu/ss/slideshow-anatomy-of-a-sore-throat
Read More
kesalahan menyikat gigi

8 Kesalahan Menyikat Gigi

Menyikat gigi terlihat seperti aktivitas sehari-hari yang tidak membutuhkan keahlian tertentu. Meski demikian tanpa disadari, ada sejumlah kesalahan dalam menyikat gigi. Simak kesalahan-kesalahan umum berikut ini dalam menyikat gigi, agar bisa Anda hindari.

1. Memilih Sikat Gigi yang Salah

Anda dihadapkan pada begitu banyak pilihan sikat gigi di pusat perbelanjaan maupun minimarket. Kimberly Harms, seorang dokter gigi dari Farmington, Minnesota, Amerika Serikat mengatakan, hal yang perlu diperhatikan dari sikat gigi adalah bentuk yang bisa menjangkau seluruh sudut gigi. Jangan sampai ada sudut yang tak terjamah penyikatan, karena di situ plak bisa menumpuk dan merusak gigi. Bentuk sikat yang diperlukan satu orang, bisa berbeda dari orang lain. Orang dengan mulut mungil, misalnya, disarankan tidak menggunakan sikat dengan kepala sikat besar. Hal penting lainnya adalah bulu sikat yang halus dan tidak merusak gusi maupun susunan gigi. “Orang sering berpikir, bulu sikat yang lebih keras bisa menyikat dengan lebih bersih. Itu tidak benar,” kata Maricelle Abayon, dokter gigi dari Eastman Institute for Oral Health di New York, Amerika Serikat.

2. Menyikat Terlalu Keras

Tekanan pada proses penyikatan gigi menjadi salah satu masalah terbesar. “Orang-orang seperti menyikat lantai kamar mandi,” kata Matt Messina, dokter gigi dari Fairview Park, Ohio, Amerika Serikat. Tekanan berlebihan itu merusak gigi dan gusi. Padahal, tujuan menyikat gigi adalah menyingkirkan plak. Plak merupakan lapisan yang terbentuk secara alami di gigi yang bisa menjadi tempat perkembangbiakan bakteri perusak gigi, dan penyebab bau mulut. Plak, memiliki tekstur halus dan mudah lepas. Jadi, tidak perlu menyikat keras-keras.

3. Terburu-buru

Biasanya, sikat gigi dilakukan sebagai rutinitas penutup kegiatan mandi maupun menjelang tidur malam. Oleh karena itu, banyak yang melakukannya secara terburu-buru. Apalagi ketika terlambat bangun dan harus mandi secepat mungkin. Padahal, waktu ideal untuk menyikat gigi adalah 2-3 menit. Anda bisa melakukannya sambil mendengarkan lagu favorit. Dengan demikian, Anda tidak merasa aktivitas ini terlalu lama. 

4. Tidak Mengganti Sikat Gigi Selama 4 Bulan

Dokter gigi menyarankan menggunakan satu sikat gigi tidak lebih dari 4 bulan. Lewat dari itu, bulu sikat menjadi berantakan dan bisa merusak gigi serta gusi. Jika tidak ingat kapan mulai menggunakan sikat gigi yang dipakai sekarang, Anda bisa mengidentifikasinya dari bulu sikat. Kalau sudah berubah warna, kotor, dan melengkung, waktunya memakai sikat gigi baru.

5. Menyikat secara Horizontal

Banyak orang melakukan penyikatan dengan arah yang salah, yaitu horizontal alias ke kanan-kiri dan depan-belakang. Itu bisa merusak gigi dan gusi. Semestinya, penyikatan dimulai dari gusi dengan gerakan naik turun dan sedikit memutar.

6. Melupakan Batas Gigi dan Gusi

Bakteri kerap bersarang di area batas antara gigi dan gusi. Kebanyakan orang melupakan area sekitar 2 milimeter ini, sehingga kerap terbentuk plak dan karang gigi di sana. Anda bisa membersihkannya dengan mengarahkan sikat gigi 45 derajat ke batas gusi, lalu baru menyapu gigi dengan gerakan naik-turun. Menyikat lidah juga diperlukan untuk melenyapkan bakteri.

7. Langsung Menyikat Gigi setelah Makan

Sebaiknya jangan langsung menyikat gigi sehabis makan. Sebab, rongga mulut mengeluarkan zat asam untuk mengolah makanan. Zat asam yang bercampur dengan abrasif pada pasta gigi, bisa merusak gigi. Dokter gigi menyarankan jeda 15-20 menit, sampai zat asam di air liur habis. Jika terpaksa menyikat gigi langsung sehabis makan, Anda bisa berkumur dulu untuk membuang sebagian zat asam di mulut.

8. Tidak Menyediakan waktu khusus.

Kita hanya menyikat gigi sebagai kebiasaan, baik sehabis mandi maupun sebelum tidur. Ada baiknya Anda menyediakan waktu khusus untuk membersihkan gigi. Mulai menyikat, melakukan flossing, memastikan tidak ada sisa makanan tertinggal di mulut, serta berkumur dengan mouthwash.

Referensi: https://www.webmd.com/oral-health/features/brushing-teeth-mistakes#1, https://bundabergdentist.com.au/8-common-toothbrush-mistakes/

Read More