Mengenal Rest Plasenta dan Membedakannya dengan Retensi Plasenta

Retensi plasenta yaitu kondisi di mana pllasenta tetap menempel pada rahim setelah kehamilan

Ada berbagai masalah yang harus dihadapi seorang wanita sepanjang masa kehamilannya. Begitu banyak risiko dan kondisi yang membahayakan kesehatan yang harus dihadapinya. Kita mungkin mengenal istilah retensi plasenta atau “kelainan” pasca melahirkan. Namun, pernahkah Anda mendengar kondisi rest plasenta?

Sebenarnya dua kondisi tersebut tidak jauh berbeda, kendati tidak dapat pula dibilang sama. Pada dasarnya, dua kondisi ini terjadi ketika plasenta atau ari-ari bayi tidak ikut keluar seiring dengan lahirnya bayi.

Untuk mengetahui lebih lanjut, simak penjelasan di bawah ini:

  • Rest Plasenta

Plasenta yang masih tertinggal disebut rest plasenta. Gejala klinis rest plasenta adalah terdapat subinvolusi uteri, terjadi perdarahan sedikit yang berkepanjangan, dapat juga terjadi perdarahan banyak mendadak setelah berhenti beberapa waktu, perasaan tidak nyaman di perut bagian bawah.

Rest Plasenta adalah tertinggalnya sisa plasenta dan membrannya dalam kavum uteri. Kondisi ini dapat menimbulkan perdarahan post partum dini atau perdarahan post partum lambat yang biasanya terjadi dalam 6 hari sampai 10 hari pasca persalinan.

Sisa plasenta yang masih tertinggal di dalam uterus dapat menyebabkan terjadinya perdarahan. Bagian plasenta yang masih menempel pada dinding uterus mengakibatkan uterus tidak adekuat sehingga pembuluh darah yang terbuka pada dinding uterus tidak dapat berkontraksi atau terjepit dengan sempurna.

Rest plasenta ini bisa menjadi penyebab dari polip plasenta sebagai kondisi komplikasinya. Polip plasenta ini berarti plasenta masih akan tumbuh dan dapat menjadi besar, perdarahan terjadi intermiten sehingga kurang mendapat perhatian dan dapat terjadi degenerasi ganas menuju koriokarsinoma dengan manifestasi klinisnya. Selain itu, komplikasi lain yang mungkin terjadi dari kondisi ini adalah: 

  • Anemia yang berkelanjutan 
  • Infeksi puerperium 
  • Kematian akibat perdarahan

Ada banyak faktor terjadinya rest plasenta, tetapi yang paling berperan besar dalam terjadinya kondisi ini adalah:

Umur

Usia ibu hamil terlalu muda (kurang dari 20 tahun) dan terlalu tua (lebih dari 35 tahun) mempunyai risiko yang lebih besar terhadap kelainan di kandungannya. Pasalnya, pada umur 20 tahun, seorang wanita belum siap dari segi biologis maupun psikis. Sedangkan pada umur lebih 35 tahun, fungsi reproduksi seorang wanita sudah mengalami kemunduran atau degenerasi dibandingkan fungsi normal.

Paritas

Faktor-faktor yang berkaitan dengan riwayat kehamilan dan kelahiran juga berpengaruh dalam terjadinya rest plasenta. Seperti jarak antar-kehamilan yang terlalu dekat, terlampau sering, terlalu muda, dan tua memiliki andil dalam risiko terjadinya kondisi ini.

Jumlah dan Kadar Darah dalam Kehamilan

Sel darah merah memang memegang peranan besar dalam kehidupan manusia, tak terkecuali pada wanita yang tengah mengandung. Kekurangan dan kelebihan jumlah atau kadar darah yang terjadi di dalam tubuh ibu hamil bisa mempengaruhi beberapa kondisi kesehatan. Termasuk rest plasenta.

  • Retensi Plasenta

Sementara itu retensi plasenta adalah kondisi di mana plasenta tidak keluar dari tubuh ibu setelah 30 menit bayi lahir ke dunia. Padahal seharusnya, dalam kondisi normal, plasenta itu akan keluar dengan sendirinya beberapa saat setelah bayi lahir.

Retensi plasenta ini merupakan keadaan yang dapat meningkatkan risiko perdarahan, infeksi, dan syok, sehingga dapat mengancam nyawa pasien. Retensi plasenta ini bisa saja berkaitan dengan rest plasenta atau kondisi-kondisi lain seperti adanya plasentasi invasif, hipoperfusi plasenta, dan kontraksi miometrium yang inadekuat. Spektrum retensi plasenta dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu plasenta trapped atau inkarserata, adherens, dan akreta.

Diagnosis retensio plasenta dapat ditegakkan dengan penemuan plasenta yang tidak lahir dalam waktu lebih dari 30 menit. Apabila plasenta tidak dilahirkan dalam 30 menit, maka risiko perdarahan akan meningkat. Pemeriksaan ultrasonografi diperlukan apabila diagnosis spektrum retensio sulit ditentukan.

Dari penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa baik itu rest plasenta maupun retensi plasenta berkaitan erat dengan kondisi plasenta atau ari-ari setelah bayi dilahirkan ke dunia. Keduanya memiliki potensi untuk membuat ibu mengalami pendarahan, meski dengan cara atau komplikasi yang berbeda. 

Kenyataan itu menguatkan bahwa pemeriksaan rutin sepanjang masa kehamilan memegang peranan penting dalam kasus rest plasenta maupun retensi plasenta. Pencegahan kondisi darurat dapat dilakukan selama tenaga medis dan pasien memiliki gambaran kondisi yang akurat.

Tags: 

Tinggalkan Balasan

Comment
Name*
Mail*
Website*