Apa Itu Osteofit? Berikut Penjelasannya

Kondisi di mana terdapat tulang tumbuh menonjol di sekitar persendian atau tempat pertemuan antara dua tulang disebut dengan osteofit atau bone spur. Pada umumnya keadaan ini juga disebut dengan pengapuran, secara perlahan terjadi pada seseorang dan bahkan dari kebanyakan kasus yang ada keadaan ini tidak menimbulkan gejala.

Meskipun kebanyakan kasus dialami oleh orang dewasa atau sudah masuk dalam kategori tua, kondisi ini bahkan juga bisa dialami oleh seseorang yang lebih muda. Pengapuran tulang ini bisa tumbuh di mana pun, tetapi yang paling sering terjadi adalah di area leher, bahu, lutut, punggung bawah, kaki atau tumit dan jari-jari.

Penyebab Osteofit

Pengapuran tulang muncul karena adanya respons tubuh terhadap gangguan yang terjadi di sekitar sendi dan paling umum disebabkan karena osteoarthritis. Merupakan suatu kondisi di mana tulang rawan yang terdapat di sekitar sendi secara perlahan terkikis. Tulang rawan merupakan sebuah jaringan elastis yang melapisi tulang dan memungkinkan sendi mudah untuk bergerak.

Pada saat tulang rawan ini terkikis secara perlahan, endapan kalsium sebagai materi pembentuk tulang juga akan terbentuk secara perlahan atau bertahap sebagai respons tubuh terhadap tulang rawan yang rusak. Selain itu, kerusakan pada sendi tulang juga bisa disebabkan karena kondisi medis tertentu, sepeti misalnya rheumatoid, arthritis, ankylosing spondylitis, lupus dan lain-lain.

Gejala Pengapuran Tulang

Pada kebanyakan kasus, kondisi ini tidak menimbulkan gejala tetapi gejala yang muncul terjadi adanya gesekan antara tulang atau jaringan lain. Setelahnya akan muncul tekanan saraf di sekitar jaringan tersebut hingga membatasi pergerakan tubuh. Berikut ini berbagai gejala lain yang akan muncul pada lokasi pertumbuhan pengapuran tulang.

  • Rasa nyeri dan tertusuk jarum pada leher disertai dengan mati rasa di area tangan akibat saraf terjepit.
  • Adanya pembengkakan dan robeknya soket bahu yang melindungi sendi bahu, akibat kondisi tersebut menyebabkan terbatasnya pergerakan bahu.
  • Pangapuran menyebabkan terjepitnya saraf atau juga akar tulang belakang, hal ini menimbulkan gejala nyeri dan mati rasa pada area lengan atau kaki.
  • Pergerakan pinggang terbatas disertai dengan munculnya rasa nyeri ketika tepat di saat seseorang menggerakkan pinggang mereka.
  • Pada jari muncul benjolan atau juga tonjolan, benjolan ini terasa sangat keras ketika dipegang, sementara di lutut akan terasa nyeri ketika mencoba untuk meluruskan atau menekuknya.

Diagnosis Pengapuran Tulang

Proses diagnosis kondisi ini harus dilakukan oleh dokter spesialis reumatologi atau dokter ortopedi, dokter spesialis reumatologi yang secara khusus menangani gangguan sendi. Sementara dokter ortopedi merupakan dokter bedah yang secara khusus menangani gangguan yang terjadi pada sistem tulang dan otot rangka.

Pada pemeriksaan pertama dokter akan menanyakan terkait riwayat munculnya gejala dan riwayat kesehatan dari pasien secara umum. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik di area sekitar sendi yang dikeluhkan oleh pasien. Dengan menggunakan pemeriksaan fisik ini, dokter bisa mengukur kekuatan otot dan pergerakan sendi pasien.

Sementara itu, terdapat beberapa metode pengobatan yang bisa dilakukan untuk menangani masalah osteofit. Yang pertama adalah melakukan fisioterapi, latihan fisik yang bertujuan untuk meningkatkan kekuatan otot dan pergerakan bagian tubuh di sekitar sendi. Terapi ini mencakup latihan peregangan otot, pemijatan dan penggunaan kompres.

Yang kedua adalah penggunaan obat, dengan tujuan meredakan gejala peradangan, seperti nyeri yang dialami pasien. Dan yang ketiga adalah operasi, tindakan pembedahan yang dilakukan jika kondisi telah menekan saraf tertentu hingga menyebabkan nyeri hebat, sehingga membatasi pergerakan tubuh pasien.

Read More

Jenis Masker Mana yang Paling Aman Cegah Corona?

Buff masker banyak digunakan masyarakat Indonesia

Hingga saat ini wabah penyakit yang pneumonia yang diakibatkan virus corona masih belum bisa diatasi, bahkan jumlah pasien yang positif terinfeksi semakin bertambah. Untuk mencegah tertular, salah satu yang disarankan adalah menggunakan masker. Dalam beberapa waktu terakhir, masker kain atau buff masker sangat direkomendasikan untuk digunakan.

Namun bukan berarti hanya masker kain saja yang bisa dipakai untuk mencegah virus corona, terdapat beberapa jenis masker lain yang bisa diandalkan. Penggunaan masker sebagai langkah antisipasi mengingat hingga saat ini belum ditemukan vaksin yang bisa digunakan untuk mengatasi virus corona.

Jenis Masker Cegah Virus Corona

  • Buff Masker

Masker kain menjadi salah satu jenis yang banyak dijual di pinggir jalan, harga satuannya pun relatif murah dan sangat bisa dibeli semua kalangan masyarakat. Masker kain atau disebut juga dengan buff masker ini biasanya kerap digunakan oleh para pengendara sepeda motor. Jenis masker yang satu ini sangat mudah untuk dicuci karena terbuat dari kain.

Masker ini masih bisa dipakai berulang kali, namun jenis masker yang satu ini hanya bisa mencegah debu dengan ukuran besar. Sehingga tidak efektif jika dipakai untuk menghalau dan mencegah partikel serta zat polutan dengan ukuran yang sangat kecil. Selain itu, jika cara mencucinya tidak benar, maka masker jenis ini justru akan berisiko menjadi sarang bakteri.

  • Simple Mask

Simple mask merupakan jenis masker yang biasa digunakan untuk menghindari polusi, pada umumnya jenis masker yang satu ini digunakan oleh para pejalan kaki dan masyarakat yang kerap menggunakan transportasi umum. Bentuk masker ini lebih sederhana dan mirip dengan masker bedah, selain itu sangat mudah didapatkan karena banyak dijual bebas.

Masker jenis ini memiliki kemampuan dalam mencegah seseorang terhindar dari virus, namun hanya bisa menyaring partikel sebesar 30 hingga 40 persen saja. Selain itu, penggunaan simple mask ini hanya bisa untuk sekali pakai.

  • Masker R95, R99, R100

Sesuai dengan kode huruf yang berarti Resistant oil, masker jenis R95, R99 dan R100 memiliki kemampuan untuk menahan polutan dengan jenis minyak. Masker ini biasa dipakai masyarakat yang berada di lingkungan dengan polutan mengandung aerosol minyak, misalnya seperti wilayah kabut asap pembakaran gas alam, batu bara hingga minyak bumi.

Masker jenis R95 mampu digunakan untuk menyaring zat polutan aerosol minyak hingga 95 persen, sementara R99 mencapai 99 persen dan R100 mencapai 99,97 persen. Namun, ketiga jenis masker ini hanya bisa efektif digunakan selama maksimal delapan jam penggunaan, selain itu masker ini sulit didapatkan karena memang digunakan untuk kondisi tertentu.

  • Masker P95, P99, P100

Huruf P yang menjadi istilah pada masker ini berarti Oil Proof, merupakan jenis masker yang tahan terhadap zat polutan yang memiliki kandungan minyak. Selain itu, jenis masker ini juga efektif digunakan untuk menghalau partikel kecil di udara termasuk virus. Meski demikian, penggunaan jenis masker ini tidak boleh lebih dari 40 jam atau selama 30 hari.

  • Masker N95, N99, N100

Masker jenis ini banyak dicari belakang ini karena disebut efektif dalam mencegah penyebaran dan infeksi virus corona. Jurnal National Center for Biotechnology Information, U.S. National Library of Medicine menyebutkan masker bedah dan masker N95 memang bisa dipakai untuk mencegah penularan virus karena mampu mencegah 95 partikel besar dan kecil hingga 0,3 mikron.

Read More

Pentingnya Pemberian Vaksin Rotavirus untuk Si Kecil

Tujuan pemberian vaksin bagi buah hati adalah untuk melindunginya dari berbagai penyakit berbahaya. Vaksin rotavirus merupakan salah satu jenis vaksin yang perlu diberikan kepada si Kecil.

Virus rotavirus dapat menyebabkan bayi atau anak mengalami dehidrasi berat akibat diare akut, yang disertai muntah, demam, dan sakit perut. Maka, penting bagi orang tua untuk mengetahui terkait vaksin rotavirus ini.

Pentingnya vaksin rotavirus bagi anak

Bayi dan anak sangat rentan terhadap infeksi virus rotavirus. Virus ini dapat menyebabkan infeksi usus, akibatnya si Kecil akan mengalami diare, mual, muntah, sakit perut, hingga demam.

Seperti diketahui, bila sampai timbul dehidrasi, artinya perlu dilakukan perawatan sangat serius. Sebab dapat timbul kondisi gawat darurat.

Tentu tak ada satu pun orang tua yang ingin melihat buah hatinya mengalami hal tersebut. Oleh sebab itu, lebih baik menempuh langkah pencegahan, seperti pemberian vaksin rotavirus.

Vaksin rotavirus akan meningkatkan daya tahan tubuh anak sehingga terlindungi dari virus tersebut. Tapi, perlu dipahami, pemberian vaksin bukan menjamin anak tidak akan terinfeksi, namun menyiapkan sistem kekebalan tubuhnya agar mampu menghadapi infeksi.

Jadi, jika si Kecil terinfeksi oleh virus rotavirus, dampak yang timbul diharapkan tidak terlalu parah. Sebab tubuhnya telah memiliki pertahanan atau sistem kekebalan terhadap virus tersebut.

Dilaporkan bahwa pemberian vaksin rotavirus telah melindungi 90% bayi dari diare berat yang disebabkan oleh virus ini.

Dosis dan usia yang tepat untuk pemberian vaksin rotavirus

Kini, Anda sudah mengetahui pentingnya vaksin rotavirus untuk buah hati tercinta. Selanjutnya, Anda juga perlu mengetahui kapan anak dapat menjalani imunisasi serta dosis vaksin yang tepat untuk diberikan kepada anak.

Pemberian vaksin pada waktu yang tepat akan memberikan hasil yang lebih optimal. Saat ini, di Indonesia terdapat vaksin yang dapat diberikan pada anak usia  2 bulan, 4 bulan, dan enam bulan. Serta jenis vaksin lain yang hanya bisa diberikan kepada anak yang berusia 2 bulan atau 4 bulan.

Dosis pertama vaksin rotavirus sebaiknya diterima si Kecil, maksimal pada usia 15 minggu. Bila pada waktu tersebut anak Anda belum menjalani imunisasi rotavirus, maka berkonsultasilah dengan dokter terkait langkah yang perlu dilakukan. Sebab vaksin tidak akan bermanfaat jika baru diberikan pada saat anak sudah berusia lebih dari 8 bulan.

Vaksin rotavirus yang diberikan setelah anak berusia lebih dari 8 bulan, kemungkinan hanya akan menimbulkan reaksi alergi dan demam.

Di samping waktu dan kondisi yang tepat untuk pemberian vaksin, orang tua juga perlu memahami, beberapa anak tidak boleh diberikan vaksin rotavirus. Di antaranya bayi yang masih berusia di bawah 6 minggu atau lebih dari 8 bulan, serta bayi dengan reaksi alergi terhadap vaksin rotavirus sebelumnya.

Bayi yang memiliki gangguan sistem imun dan penyakit pencernaan juga sebaiknya tidak diberikan vaksin rotavirus, antara lain bayi dengan intususepsi (gangguan usus yang menyebabkan usus berlipat dan menyusup pada bagian usus lain), bayi dengan Severe Combined Immunodeficiency (SCID), serta bayi-bayi dengan kelainan bawaan, seperti spina bifida atau bladder exstrophy.

Orang tua memang harus memiliki wawasan dan bijak dalam menjaga kesehatan anak. Berkonsultasilah dengan dokter anak Anda untuk merencanakan jadwal pemberian vaksin bagi si Kecil, termasuk vaksin rotavirus. Sehingga semua vaksin dapat diberikan dalam dosis yang tepat dan waktu optimal.

Read More

Mengenal Rest Plasenta dan Membedakannya dengan Retensi Plasenta

Retensi plasenta yaitu kondisi di mana pllasenta tetap menempel pada rahim setelah kehamilan

Ada berbagai masalah yang harus dihadapi seorang wanita sepanjang masa kehamilannya. Begitu banyak risiko dan kondisi yang membahayakan kesehatan yang harus dihadapinya. Kita mungkin mengenal istilah retensi plasenta atau “kelainan” pasca melahirkan. Namun, pernahkah Anda mendengar kondisi rest plasenta?

Sebenarnya dua kondisi tersebut tidak jauh berbeda, kendati tidak dapat pula dibilang sama. Pada dasarnya, dua kondisi ini terjadi ketika plasenta atau ari-ari bayi tidak ikut keluar seiring dengan lahirnya bayi.

Untuk mengetahui lebih lanjut, simak penjelasan di bawah ini:

  • Rest Plasenta

Plasenta yang masih tertinggal disebut rest plasenta. Gejala klinis rest plasenta adalah terdapat subinvolusi uteri, terjadi perdarahan sedikit yang berkepanjangan, dapat juga terjadi perdarahan banyak mendadak setelah berhenti beberapa waktu, perasaan tidak nyaman di perut bagian bawah.

Rest Plasenta adalah tertinggalnya sisa plasenta dan membrannya dalam kavum uteri. Kondisi ini dapat menimbulkan perdarahan post partum dini atau perdarahan post partum lambat yang biasanya terjadi dalam 6 hari sampai 10 hari pasca persalinan.

Sisa plasenta yang masih tertinggal di dalam uterus dapat menyebabkan terjadinya perdarahan. Bagian plasenta yang masih menempel pada dinding uterus mengakibatkan uterus tidak adekuat sehingga pembuluh darah yang terbuka pada dinding uterus tidak dapat berkontraksi atau terjepit dengan sempurna.

Rest plasenta ini bisa menjadi penyebab dari polip plasenta sebagai kondisi komplikasinya. Polip plasenta ini berarti plasenta masih akan tumbuh dan dapat menjadi besar, perdarahan terjadi intermiten sehingga kurang mendapat perhatian dan dapat terjadi degenerasi ganas menuju koriokarsinoma dengan manifestasi klinisnya. Selain itu, komplikasi lain yang mungkin terjadi dari kondisi ini adalah: 

  • Anemia yang berkelanjutan 
  • Infeksi puerperium 
  • Kematian akibat perdarahan

Ada banyak faktor terjadinya rest plasenta, tetapi yang paling berperan besar dalam terjadinya kondisi ini adalah:

Umur

Usia ibu hamil terlalu muda (kurang dari 20 tahun) dan terlalu tua (lebih dari 35 tahun) mempunyai risiko yang lebih besar terhadap kelainan di kandungannya. Pasalnya, pada umur 20 tahun, seorang wanita belum siap dari segi biologis maupun psikis. Sedangkan pada umur lebih 35 tahun, fungsi reproduksi seorang wanita sudah mengalami kemunduran atau degenerasi dibandingkan fungsi normal.

Paritas

Faktor-faktor yang berkaitan dengan riwayat kehamilan dan kelahiran juga berpengaruh dalam terjadinya rest plasenta. Seperti jarak antar-kehamilan yang terlalu dekat, terlampau sering, terlalu muda, dan tua memiliki andil dalam risiko terjadinya kondisi ini.

Jumlah dan Kadar Darah dalam Kehamilan

Sel darah merah memang memegang peranan besar dalam kehidupan manusia, tak terkecuali pada wanita yang tengah mengandung. Kekurangan dan kelebihan jumlah atau kadar darah yang terjadi di dalam tubuh ibu hamil bisa mempengaruhi beberapa kondisi kesehatan. Termasuk rest plasenta.

  • Retensi Plasenta

Sementara itu retensi plasenta adalah kondisi di mana plasenta tidak keluar dari tubuh ibu setelah 30 menit bayi lahir ke dunia. Padahal seharusnya, dalam kondisi normal, plasenta itu akan keluar dengan sendirinya beberapa saat setelah bayi lahir.

Retensi plasenta ini merupakan keadaan yang dapat meningkatkan risiko perdarahan, infeksi, dan syok, sehingga dapat mengancam nyawa pasien. Retensi plasenta ini bisa saja berkaitan dengan rest plasenta atau kondisi-kondisi lain seperti adanya plasentasi invasif, hipoperfusi plasenta, dan kontraksi miometrium yang inadekuat. Spektrum retensi plasenta dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu plasenta trapped atau inkarserata, adherens, dan akreta.

Diagnosis retensio plasenta dapat ditegakkan dengan penemuan plasenta yang tidak lahir dalam waktu lebih dari 30 menit. Apabila plasenta tidak dilahirkan dalam 30 menit, maka risiko perdarahan akan meningkat. Pemeriksaan ultrasonografi diperlukan apabila diagnosis spektrum retensio sulit ditentukan.

Dari penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa baik itu rest plasenta maupun retensi plasenta berkaitan erat dengan kondisi plasenta atau ari-ari setelah bayi dilahirkan ke dunia. Keduanya memiliki potensi untuk membuat ibu mengalami pendarahan, meski dengan cara atau komplikasi yang berbeda. 

Kenyataan itu menguatkan bahwa pemeriksaan rutin sepanjang masa kehamilan memegang peranan penting dalam kasus rest plasenta maupun retensi plasenta. Pencegahan kondisi darurat dapat dilakukan selama tenaga medis dan pasien memiliki gambaran kondisi yang akurat.

Read More

Sinyal Utama Prosedur Operasi Bibir Sumbing Dapat Dilakukan

Operasi bibir sumbing membantu mengoptimalkan tumbuh kembang anak.

Bibir sumbing atau dalam istilah medis dikenal dengan “cheiloschisis” merupakan cacat bawaan yang terjadi pada 1 dari 300 bayi yang lahir di Indonesia. Dari angka itu, tercatat ada 7000 kasus bibir sumbing yang terjadi di negara ini dalam satu kurun waktu satu tahun. Tindakan medis satu-satunya untuk mengatasi masalah ini adalah operasi bibir sumbing.

Cheiloschisis harus diatasi sesegera mungkin. Sebab kondisi ini tidak hanya menyebabkan masalah-masalah psikologis belaka. Lebih jauh dari itu, bibir sumbing dapat menyebabkan gangguan untuk kondisi kesehatan si anak. Mulai dari kesulitan makan, infeksi telinga, hingga kesulitan berbicara.

Cerukan di bibir bagian atas itu terjadi lantaran berbagai faktor di janin ibu. Normalnya, jaringan pada bibir dan langit-langit mulut menyatu pada bulan kedua dan ketiga masa kehamilan. Gagalnya penyatuan jaringan-jaringan tersebut mengakibatkan bibir bayi menjadi sumbing.

Beberapa faktor penyebab bibir sumbing adalah: penggunaan kontrasepsi yang tidak tepat, hipoksia janin yang terjadi saat janin tidak mendapat pasokan oksigen yang cukup, penggunaan kosmetik dengan kandungan air raksa, konsumsi rokok, konsumsi obat tanpa resep dokter saat hamil, dan paparan radiasi.

  • Kapan Waktu Ideal Pelaksanaan Operasi Bibir Sumbing?

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, operasi bibir sumbing sebaiknya dilakukan sesegera mungkin. Kondisi-kondisi kesehatan dan psikologis yang menyertai menjadi alasan di balik itu semua. Namun, dokter akan memastikan terlebih dahulu bahwa pasien telah dalam keadaan yang ideal untuk mendapatkan operasi.

Dalam dunia medis, dikenal istilah “Rule of Ten” sebagai sinyal atau indikasi seorang anak siap mendapatkan tindakan operasi bibir sumbing. Anak bisa dioperasi jika telah memenuhi syarat seperti:

  • Telah memiliki bobot tubuh 10 pon atau sekitar 4,5 kilogram
  • Jumlah leukosit atau sel darah putih di bawah 10.000 per milimeter kubik
  • Memiliki kadar hemoglobin di atas 10 gram
  • Dan telah berumur setidaknya 10 pekan atau kurang lebih 3 bulan

Selain mematuhi “Rule of Ten” di atas, anak juga harus dipastikan terbebas dari tanda-tanda infeksi lainnya seperti batuk, pilek, dan demam. Karena itu, sebelumnya anak akan dilakukan proses screening oleh dokter anak dan anestesi. Proses operasi pun terbilang cukup cepat dan tak perlu masa inap yang lama di rumah sakit.

  • Prosedur Setelah Anak Mendapat Tindakan Operasi Bibir Sumbing

Setelah melakukan prosedur operasi bibir sumbing dan menginap selama satu malam di rumah sakit, dokter akan mengevaluasi kondisi pasien keesokan harinya. Jika tidak terdapat kelainan atau penyulitan, seperti pendarahan, pasien sudah bisa minum dan makan seperti biasa, sudah bisa pulang. 

Setelah itu, selang satu minggu akan dilakukan cabut benang operasi dan bisa dilakukan kontrol rutin. Perawatan pascaoperasi pun cukup sederhana, pasien diberi obat minum berupa sirop yang harus dihabiskan, sedangkan untuk perawatan luka diberikan salep.

Akan tetapi, prosedur operasi dan perawatan tersebut hanya dapat berlaku pada operasi bibir sumbing saja. Segala yang terasa “mudah” itu tidak berlaku bagi pasien yang memiliki kondisi sumbing di bagian langit-langit mulutnya. Operas bibir sumbing dengan kondisi seperti itu jauh lebih rumit. 

Pascaoperasi pasien harus diet cairan selama dua minggu hingga dua bulan. Kalau pun ingin makanan padat harus dihaluskan dan diencerkan agar tidak mengganggu langit-langit yang dioperasi.

Operasi celah langit-langit baru bisa dilakukan pada anak usia 1,5 tahun. Hal ini dilakukan mengingat pada usia 2 tahun anak sudah harus belajar bicara. Jika anak sudah menginjak usia 5 tahun dilakukan operasi lagi untuk memperbaiki bekas luka yang masih belum sempurna. Usia ini dipertimbangkan karena merupakan usia anak mulai sekolah agar anak lebih percaya diri ketika masuk sekolah.

Meski operasi bibir sumbing dan langit-langit paling ideal dilakukan pada usia dini, tetapi tidak menutup kemungkinan operasi dilakukan saat mereka telah beranjak dewasa. Hanya saja, kemungkinan bekas operasi atau parut akan jauh lebih halus jika dilakukan saat masih berada pada usia dini.

Read More