Wanita Harus Menggugurkan Kandungan, Karena Alasan Ini!

Wanita Harus Menggugurkan Kandungan, Karena Alasan Ini!

Kehamilan merupakan saat yang paling ditunggu-tunggu oleh setiap wanita, terlebih lagi bagi mereka yang sangat menantikan hadirnya seorang anak. Namun, tidak semua wanita dapat menjalani proses kehamilan dengan lancar seperti yang mereka bayangkan. 

Pasalnya, ada beberapa wanita dengan kondisi medis tertentu harus menggugurkan kandungannya. Tentu saja hal ini bukanlah hal yang mudah untuk mereka. Tetapi, hal ini biasanya dilakukan untuk menyelamatkan hidup Anda. Dan, beberapa kasus aborsi medis adalah salah satu cara untuk menyelamatkan nyawa ibu. 

Menggugurkan kandungan karena alasan medis

Aborsi atau menggugurkan kandungan adalah pengakatan jaringan kehamilan, hasil konsepsi atau janin dan plasenta (setelah lahir) dari rahim. Secara umum, istilah janin dan plasenta digunakan setelah delapan minggu kehamilan. 

Beberapa kondisi medis berikut umumnya menjadi penyebab dilakukannya aborsi atau menggugurkan kandungan. Alasan tersebut di antaranya:

  • Kanker

Jika Anda didiagnosis menderita kanker selama kehamilan, maka lebih baik melakukan penghentian kehamilan secara medis. Kanker membutuhkan perawatan segera dan bahan kimia yang keras dari kemoterapi dapat membahayakan bayi. Jika seorang wanita menunggu bayinya lahir ketika dia didiagnosis menderita kanker, itu bisa berakibat fatal baginya. 

  • Cacat lahir

Pemindaian ultrasonografi atau USG atau amniosentesis dapat memberitahu Anda apakah anak tersebut memiliki cacat lahir yang serius seperti down syndrome atau kelumpuhan serebral. Dalam kasus seperti itu, Anda dapat memilih untuk melakukan aborsi daripada membiarkan anak menderita seumur hidupnya. 

Namun, biasanya dokter akan berbicara dengan Anda mengenai masalah tersebut. Jika Anda tetap menginginkan bayi tersebut walaupun telah terdeteksi memiliki cacat lahir mungkin dokter akan mempersilakan untuk melanjutkan kehamilan. 

  • Penyakit menular seksual

Jika calon ibu didiagnosa dengan penyakit menular seksual seperti HIV atau sifilis, maka kemungkinan besar anak yang lahir nantinya pun akan tertular. Dalam kasus seperti ini, biasanya akan disarankan untuk melakukan aborsi atau menggugurkan kandungan, karena kalau pun tetap melanjutkan kehamilan Anda dan dokter sekali pun tidak dapat memastikan apakah bayi akan terinfeksi atau tidak. 

  • Diabetes

Jika seorang ibu hamil menderita diabetes yang parah, dan kadar gula darahnya pun dapat mempengaruhi perkembangan bayi, maka kemungkinan besar dokter akan menyarankan Anda untuk melakukan aborsi, jika diabetes Anda tidak terkendali. 

  • Tiroid tinggi

Ibu hamil yang mengalami gangguan fungsi tiroid, perkembangan otak bayi secara langsung akan terpengaruh. Jadi, jika hormon tiroid ibu tidak terkendali, aborsi mungkin diperlukan. 

  • Cacar air selama kehamilan

Seorang ibu hamil yang mengembangkan penyakit virus yang serius, seperti cacar air selama kehamilannya, maka Anda kemungkinan perlu melakukan aborsi. Virus cacar air yang menetap atau berada di tubuh Anda selama 3 bulan dapat menginfeksi bayi Anda juga dan hal itu akan berbahaya. 

Meskipun aborsi dilakukan karena alasan medis, tetap saja dapat menimbulkan beberapa risiko pada wanita tersebut. Meskipun tidak semua aborsi dapat menimbulkan risiko, tetapi beberapa kondisi mengalami komplikasi seperti:

  • Perdarahan berat 
  • Infeksi
  • Kerusakan serviks
  • Jaringan parut pada lapisan rahim
  • Perforasi uterus
  • Kerusakan organ internal
  • Kematian

Dampak emosional dan psikis dari aborsi

Ada keterkaitan antara aborsi dengan penurunan kesehatan emosional dan fisik. Bagi beberapa wanita, emosi negatif mungkin lebih kuat dialami setelah aborsi, dan dapat muncul dalam beberapa hari atau setelah bertahun-tahun. Dampak psikologis merupakan salah satu bentuk gangguan stres pascatrauma. Gejala yang mungkin muncul meliputi:

  • Gangguan makan
  • Masalah hubungan
  • Kesalahan
  • Depresi
  • Teringat kejadian aborsi
  • Pikiran untuk bunuh diri
  • Disfungsi seksual
  • Penyalahgunaan alkohol atau narkoba
  • Konsekuensi spiritual 

Menggugurkan kandungan karena berbagai alasan medis memang sering kali membuat seorang wanita merasa tertekan dan tidak jarang mengalami trauma akibat kejadian tersebut. Meskipun hal tersebut wajar terjadi, namun Anda selaku pasangannya perlu memperhatikan apakah kondisi tersebut bisa membahayakan atau tidak. Mengunjungi dokter atau psikolog dapat Anda lakukan jika khawatir dengan keadaan pasangan Anda.

Read More

Ingin Beli Bra secara Online? Ini Dia Cara Menghitung Ukuran Bra yang Tetap

Pernahkah Anda salah membeli ukuran bra? Jika iya, tentu Anda merasa tidak nyaman dan menyesal selepas membeli bra tersebut. Terlebih, jika Anda membeli bra secara online. Membeli bra secara online tentu tidak memungkinkan Anda untuk mencobanya terlebih dulu, sebelum akhirnya memutuskan untuk membeli bra tersebut.

Ukuran bra yang tidak sesuai dapat menimbulkan masalah, seperti pundak yang terasa pegal akibat penggunaan tali bra yang terlalu kencang. Bahkan, permasalahan pada tali bra yang terlalu kencang ini dapat meninggalkan bekas permanen pada kulit Anda.

Tidak hanya penggunaan tali bra, namun cup bra yang tidak sesuai juga ternyata dapat berpengaruh pada kepercayaan diri Anda. Sebuah penelitian membuktikan bahwa terdapat banyak wanita yang pada akhirnya memutuskan untuk melakukan prosedur operasi, baik itu pengecilan maupun pembesaran payudara agar merasa puas dengan ukuran bra yang dipilih.

Cara menghitung ukuran bra yang tepat

Ternyata, seorang wanita dapat berganti-ganti hingga enam ukuran bra sepanjang hidupnya, lho. Perubahan ukuran bra tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti penambahan berat badan, kehamilan, hingga tingkat gravitasi di lingkungan sekitar.

Maka dari itu, Anda perlu untuk memerhatikan perubahan-perubahan ukuran bra Anda. Mengetahui ukuran bra yang sesuai dapat Anda lakukan dengan mengukur lingkar dada dan cup bra Anda. Barang yang perlu Anda persiapkan

  1. Mengukur lingkar dada
  • Mengukur lingkar dada dilakukan dengan melingkari pita jahit mengelilingi dada secara tepat berada di bawah payudara Anda, pastikan pita tidak menempel terlalu longgar atau terlalu ketat.
  • Ukuran normal lingkar dada yang biasanya didapat, yaitu sekitar 60-150 cm.
  1. Mengukur cup bra
  • Lingkarkan pita jahit mengelilingi tubuh Anda dengan puncak pada area payudara yang paling penuh, contoh di area dekat puting.
  • Angka yang didapat dari pengukuran ini harus lebih besar dibanding dengan lingkar dada yang sebelumnya telah diukur.

Ketika Anda telah mendapatkan kedua angka tersebut, maka cara menghitung ukuran cup bra Anda dilakukan dengan mengurangi ukuran lingkar payudara dengan ukuran lingkar dada. Sebagai contoh, jika lingkar dada Anda berukuran 80 cm dan lingkar dada payudara berkisar 95 cm, maka ukuran cup bra yang sesuai, yaitu sebesar 15 cm.

Konversi ukuran bra lokal dan impor

Ukuran bra terdiri atas angka dan huruf, yang mana angka menggambarkan lingkar dada di bawah payudara, sementara itu huruf merupakan simbol dari ukuran cup bra Anda.

Bra yang umumnya dijual di Indonesia memiliki ukuran bra dalam satuan centimeter dan memiliki angka yang cukup besar, seperti 80, 70, dsb. Namun, jika Anda membeli bra impor, seperti dari Amerika, ukuran bra yang digunakan yaitu dalam inci, sehingga angka ukuran bra lebih kecil, seperti 34, 36, dst.

Agar Anda tidak salah memilih ukuran bra, berikut petunjuk dalam memilih ukuran bra yang sesuai:

  1. Ukuran lingkar dada
  • XXS = 60 cm = 28 inci
  • XS = 65 = 30
  • S = 70 = 32
  • M = 75 = 34
  • L =80 =36
  • XL = 85 = 38
  • XXL = 90 = 40
  • 3XL =95 = 42
  • 4XL = 100 = 44
  • 5XL = 105 = 46
  1. Ukuran cup bra
  • 10-11 cm = AA
  • 12-13 = A
  • 14-15 = B
  • 16-17 = C
  • 18-19 = D
  • 20-21 = E
  • 22-23 = F
  • 24-25 = G
  • 26-27 = H
  • 28-29 = I
  • 30-31 = J
  • 32-33 = K
Read More