Ampuh! Inilah Cara Menenangkan Hati Setelah Putus Cinta

Ketika seseorang mengalami putus cinta, tentu hal itu akan menganggu pikirannya sehingga tidak dapat berkonsentrasi dalam melakukan aktivitas. Rasa sakit di hati setelah putus cinta memang amat menyesakkan, namun jika dibiarkan berlarut-larut bisa berbahaya bagi kesehatan, baik secara batin maupun fisik. Jangan biarkan patah hati membuat hidup Anda tak nyaman, Anda harus mengambil tindakan untuk menyembuhkan patah hati yang saat ini dialami. Memang tak mudah, cobalah untuk menenagkan hati Anda terlebih dahulu. Berikut cara menenangkan hati setelah putus cinta yang bisa Anda lakukan.

  • Belajar Memaafkan dan Ikhlas

Menyimpan dendam pasca putus cinta tidak akan menenangkan hati dan membantu Anda menjalani hidup yang nyaman. Memaafkan mantan kekasih dan mengikhlaskan hubungan yang telah berakhir tidak akan membuat Anda terlihat lemah. Sebaliknya, hal itu akan membentuk pribadi yang lebih dewasa.

  • Tidak Perlu Menyalahkan Diri Sendiri

Cara menenangkan hati setelah putus cinta adalah berhenti menyalahkan diri sendiri. Menyalahkan diri sendiri hanya akan membuat diri Anda tertekan dan tidak akan menyeselesaikan masalah. Jika Anda mengalami masalah, apa pun itu, jangan terlalu menyalahkan diri sendiri.

Bertanggung jawab memang perlu! Namun bukan berarti harus terus-menerus menyiksa batin, apalagi menganggap diri Anda tak pantas diampuni. Jadikanlah masalah ini menjadi sebuah pelajaran dan bersyukurlah karena adanya masalah ini akan membentuk diri menjadi pribadi lebih baik.

  • Melakukan Aktivitas yang Positif

Cara lain menenangkan hati setelah putus cinta adalah melakukan hal-hal positif. Secara otomatis, aktivitas itu akan memberikan pikiran positif juga bagi diri Anda. Setelah putus cinta mulailah melakukan kegiatan seperti olahraga, belanja, belajar alat musik, dan sebagainya agar Anda dapat melupakan sejenak masalah Anda. Selain berdampak positif, melakukan kegiatan baru juga akan membuat Anda memiliki teman dan ruang lingkup baru.

  • Lepaskan dan Jangan Simpan Sendiri

Ketika Anda sedang terdapat banyak masalah, janganlah mengurung diri Anda terus menerus, hal itu akan membuat Anda semakin tertekan. Pergilah bersama teman untuk mencairkan suasana hati Anda.

Jangan memendam masalalah sendiri karena itu akan membuat Anda semakin stres dan galau berkepanjangan. Anda perlu bercerita kepada orang yang dipercaya tentang perasaan sedih Anda selepas putus cinta. Mereka akan mendengarkan dan memberi masukan untuk menenangkan hati Anda setelah putus cinta.

  • Cobalah untuk Travelling

Cara menenangkan hati selanjutnya, yakni dengan melakukan perjalanan wisata. Anda bisa memilih tempat mana yang ingin di kunjungi. Jika sedang ingin menenangkan diri, perjalan wisata alam dapat membantu melepas masalah Anda.

Anda bisa berlibur ke pantai, gunung, air terjun, atau wisata alam lainnya. Alam selalu menjadi jawaban tepat untuk menenangkan hati dan pikiran. Dengan melihat pemandangan hijau serta lautan biru akan membuat Anda merasa lebih damai.

  • Mendekatkan Diri ke Tuhan

Kebanyakan orang berpikir bahwa bermain ke club malam, joget-joget, dan mabuk bisa menjadi senjata untuk menenangkan hati yang gelisah. Padahal hal itu salah, kegiatan seperti itu hanya akan menghilangkan penat Anda secara sementara.

Daripada menghabiskan waktu dengan hal-hal tak berguna, lebih baik Anda mendekatkan diri kepada Tuhan. Jika Anda muslim, Anda bisa melakukan salat lima waktu atau salat sunat. Bisa juga mendengarkan lantunan ayat suci Alquran atau membacanya. Hal ini akan membuat hati Anda terasa damai sekaligus tenang.

***

Memiliki masalah putus cinta merupakan hal yang paling rumit untuk diselesaikan. Namun jangan biarkan hal ini terjadi berkepanjangan karna akan mengganggu aktivitas Anda. Carilah cara untuk menenangkan hati Anda. Jangan terlalu tenggelam dalam perasaan dan cobalah untuk bangkit dari Masalah Anda.

Read More

Psikosis

Penderita psikosis dapat mengalami halusinasi dan/atau delusi

Psikosis adalah gangguan mental yang terjadi pada manusia dimana masalah tersebut dapat membuat penderita menafsirkan sekitarnya secara berbeda dari orang lain. Orang-orang yang mengalami gangguan seperti ini cenderung mengalami halusinasi dan/atau delusi.

Psikosis bisa terjadi dalam waktu yang singkat. Seseorang yang terkena gangguan psikosis biasanya disebabkan oleh suatu kejadian di masa lalu, atau yang dapat membuat mereka stres. Contoh kejadian yang dialami adalah meninggalnya orang terdekat.

Orang-orang yang mengalami gangguan psikosis biasanya akan sembuh dalam waktu beberapa hari atau minggu.

Gejala

Berikut adalah gejala yang dialami penderita psikosis:

  • Delusi

Delusi merupakan keyakinan yang dialami seseorang yang tidak masuk akal, namun kuat. Penderita mudah mengalami atau mempercayai sesuatu yang tidak nyata. Delusi terdiri dari tiga jenis, antara lain delusi paranoia, delusi mengenai keagungan, dan delusi somatik.

Delusi paranoia adalah jenis delusi yang menimbulkan kecurigaan atau ketidakpercayaan terhadap orang lain yang tidak rasional. Misalnya, seseorang percaya bahwa orang lain telah melakukan pembunuhan.

Delusi mengenai keagungan adalah jenis delusi yang dapat meyakini penderita bahwa mereka memiliki kekuatan, kemampuan, atau benda yang istimewa. Mereka juga percaya bahwa mereka berhubungan dengan orang yang terkenal atau penting, atau berhubungan dengan suatu agama atau mitos tertentu. Misalnya, seseorang merasa yakin bahwa dia adalah keturunan raja.

Delusi somatik adalah jenis delusi yang membuat seseorang yakin bahwa mereka mengalami cacat atau terkena suatu penyakit. Misalnya, seseorang merasa bahwa dia terkena penyakit kusta, namun secara medis dia baik-baik saja.

  • Halusinasi

Halusinasi dapat membuat seseorang melihat, mendengar, merasa, dan mencicipi sesuatu yang tidak muncul. Orang-orang yang mengalami halusinasi biasanya cenderung mendengarkan suara-suara (di dalam pikiran).

Seseorang yang mengalami kombinasi antara delusi dan halusinasi bisa membuat mereka mengalami depresi dan menunjukkan perubahan perilaku. Gejala lain yang dapat dialami penderita adalah sebagai berikut:

  • Depresi.
  • Kesulitan dalam berkonsentrasi.
  • Ingin bunuh diri.
  • Pola tidur yang tidak teratur.
  • Merasa cemas atau curiga.
  • Menarik diri dari lingkungan.
  • Terus merasa murung.
  • Cara berbicara yang tidak teratur seperti mengganti topik secara tidak berhubungan.
  • Penarikan diri dari teman atau keluarga.

Penyebab

Psikosis disebabkan oleh faktor berikut:

  • Masalah kesehatan mental seperti bipolar.
  • Kurang tidur.
  • Stres.
  • Penyalahgunaan obat-obatan atau alkohol.
  • Kondisi atau penyakit yang berhubungan dengan otak seperti tumor otak.
  • Demensia.
  • Malaria.
  • Lupus.
  • Kadar gula yang sangat rendah.

Diagnosis

Jika Anda mengalami psikosis, Anda sebaiknya konsultasikan masalah ini dengan psikiater atau dokter kejiwaan dan psikolog. Mereka akan menganalisa kondisi dan perilaku Anda dengan mengajukan beberapa pertanyaan terkait dengan masalah yang Anda alami.

Setelah itu, mereka akan menyarankan Anda untuk mengikuti tes medis untuk mengetahui penyebab psikosis.

Pengobatan

Berikut adalah cara untuk menangani penderita psikosis:

  • Penenangan

Penenangan dapat dilakukan dengan suntikan atau obat berbentuk cair jika pasien membahayakan diri atau orang lain.

  • Terapi perilaku kognitif

Terapi perilaku kognitif dilakukan untuk mengubah pemikiran dan perilaku penderita psikosis.

  • Komunitas serupa

Penderita bisa menceritakan masalah yang dialami dengan komunitas serupa.

  • Intervensi keluarga

Pasien yang menderita psikosis dapat dibantu atau didukung oleh keluarga untuk membantu mengatasi masalah bersama-sama.

  • Obat antipsikotik

Obat antipsikotik digunakan untuk meringankan halusinasi dan/atau delusi, serta membantu pasien berpikir jernih.

Kesimpulan

Sebagian besar penderita tidak menyadari bahwa mereka mengalami psikosis dan tidak ingin bertemu dengan dokter atau ahli kesehatan mental lainnya. Oleh karena itu, Jika Anda merasa teman atau anggota keluarga Anda mengalami hal yang serupa, Anda sebaiknya coba meyakinkan untuk berkonsultasi dengan dokter atau ahli kesehatan mental.

Read More